January 13, 2013

Strategi Pembelajaran: Active Learning, Cooperative Learning, Contextual Teaching and Learning, Independent Learning, Quantum Learning, dan Learning Styles

Download Makalah Strategi Pembelajaran: Active Learning, Cooperative Learning, Contextual Teaching and Learning, Independent Learning, Quantum Learning, dan Learning Styles :
DOWNLOAD

 
Istilah pengajaran (instruksional) dan pembelajaran (learning) berbeda konsep. Pengajaran lebih mengarah pada pemberian pengetahuan dari guru kepada siswa, sedangkan pembelajaran lebih mengarah pada upaya membelajarkan siswa.

Pembelajaran dipandang sebagai upaya mempengaruhi siswa agar belajar. Proses pembelajaran yang melibatkan berbagai komponen dalam belajar hendaknya dikemas secara sistematis sehingga membuahkan hasil belajar yang optimal.

Kemampuan mengemas secara sitematis komponen dalam belajar tersebut hanya dapat dilakukan oleh guru professional. Siswa yang dalam hal ini sebagai subyek didik menjadi titik sentral yang perlu diterapkan oleh guru agar hasil belajar yang dicapai oleh siswa optimal.

Keberhasilan proses pembelajaran dimana parameternya adalah hasil belajar, hal ini memacu baik guru maupun siswa untuk berusaha mencapai tujuan tersebut. Baik guru harus melakukan pemilihan metode dan strategi pembelajaran yang tepat dengan materi yang akan diajarkan.

Hasil dari pembelajaran adalah siswa akan belajar sesuatu yang mereka tidak akan pelajari tanpa adanya tindakan pembelajar dan siswa akan mempelajari sesuatu dengan cara yang lebih efisien. Dalam mencapai tujuan pembelajaran diperlukan sebuah strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah cara dan seni untuk menggunakan semua sumber belajar dalam upaya membelajarkan siswa. Sebuah strategi (model) pembelajaran efektif untuk sebuah kondisi tetapi belum tentu efektif untuk kondisi yang lain.

Tulisan ini membahas beberapa strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Strategi pembelajaran yang dibahas adalah: Active Learning, Cooperative Learning, Contextual Teaching and Learning, Independent Learning, Quantum Learning, dan Learning Styles.


STRATEGI PEMBELAJARAN

A. Active Learning
Pembelajaran aktif selalu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, bekerja, melaksanakan pekerjaan, dan tidak diam saja. Guru juga aktif dalam rangka menciptakan suasana yang kondusif agar siswa mau belajar secara optimal dengan berbagai usaha, cara, strategi, media, dan sebagainya. (Sufanti, 2010: 60).

Surtikanti dan Santosa (2008: 63) mengemukakan bahwa belajar aktif merupakan suatu pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar aktif menuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri merupakan tujuan akhir dari pembelajaran aktif.

Suparlan, Budimansyah, dan Meriawan (dalam Sufanti, 2010: 60-61) menyatakan bahwa yang dimaksudkan aktif dalam proses belajar mengajar, guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga peserta didik mengajukan pertanyaan, mengemukakan gagasan, dan mencari data dan informasi yang mereka perlukan untuk memecahkan masalah. 
Belajar memang merupakan proses aktif dari pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah dari guru. Pembelajaran yang tidak mampu mengaktifkan siswa berarti pembelajaran itu bertentangan dengan hakikat belajar yang sesungguhnya.

Beberapa metode yang dapaat diterapkan dalam Active Learning antara lain:

a. Snowballing

  • Adakan Grouping (terdiri dari 3-5 orang) 
  • Ajukan sebuah pertanyaan, permasalahan.
  • Setelah itu masing-masing group digabung 
  • Sharing antar group
b. Tim Quis
  • Pilih topik yang akan disampaikan dalam tiga segment 
  • Buat kelompok
  • Jelaskan format sesi yang akan disampaikan. Batas 10 menit
  • Mintalah tim A untuk membuat quis
  • Tim A memberikan pertanyaan pada tim B dan C
c. Learning Starts with a question
  • Bagikan bahan belajar yang dipilih 
  • Minta siswa untuk mempelajari bahan tersebut secara berpasangan.
  • Menentukan hal-hal yang belum dimengerti, diberi garis bawah atau menulis pertanyaan disampingnya

B. Cooperative Learning
Cooperative Lerning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih. Keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Dalam pendekatan ini siswa merupakan bagian dari suatu sistem kerjasama dalam mencapai hasil yang optimal dalam belajar. (Surtikanti dan Santoso, 2008: 54)

Cooperative Learning juga memandang bahwa keberhasilan dalam belajar bukan semata-mata harus diperoleh dari guru, melainkan bisa juga dari pihak lain yang terlibat dalam pembelajaran itu, yaitu teman sebaya . Jadi keberhasilan belajar dalam pendekataan ini bukan hanya ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh, melainkan perolehan itu akan baik bila dilakukan secara bersama-sama dalam kelompok kecil yang terstruktur dengan baik.

Menurut Surtikanti dan Santoso (2008: 54), karakteristik pendekatan Cooperative Learning antara lain:

  1. Individual Acountability, yaitu setiap individu di dalam kelompok mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok, sehingga keberhasilan kelompok sangat ditentukan oleh tanggung jawab setiap anggota. 
  2. Social Skills, yaitu kepekaan sosial dan mendidik siswa untuk menumbuhkan pengekangan diri dari dan pengarahan diri demi kepentingan kelompok.
  3. Positive Interdepedence, adalah sifat yang menunjukkan saling ketergantungan satu terhadap yang lain di dalam kelompok secara positif.
  4. Group Processing, proses perolehan jawaban permasalahan dikerjakan oleh kelompok secara bersama-sama.

C. Contextual Teaching And Learning
Contextual Teaching and Learning (CTL) menurut Nurhadi (dalam Surtikanti dan Santoso, 2008: 57) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Selain itu, juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sendiri-sendiri. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar.

Sedangkan menurut Johnson (dalam Surtikanti dan Santoso, 2008: 57), CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungakan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka.
Ada tujuh indikator pembelajaran kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu :

  1. Modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh) 
  2. Questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi)
  3. Learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan)
  4. Inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan)
  5. Constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis)
  6. Reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut) 
  7. Authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara)

Penjelasan dari ketujuh indikator tersebut adalah sebagai berikut.

Constructivism 
Constructivism adalah suatu pembelajaran yang menekankan terbentuknya pemahaman siswa secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Sedangkan inquiry (menemukan) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontektual yang diawali dengan pengamatan terhadap fenomena, yang dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Siklus inkuiri dimulai dari observasi, bertanya, hipotesis, pengumpulan data, dan penyimpanan.

Quistioning (bertanya)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Bertanya merupakan strategi pokok dalam pembelajaran yang berbasis kontektual. Strategi ini dipandang sebagai upaya guru yang dapat membantu siswa untuk mengetahui sesuatu, memperoleh informasi, sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berpikir siswa. Sehingga penggalian informasi menjadi lebih efektif, terjadinya pemantapan pemahaman lewat diskusi., bagi guru bertanya kepada siswa bisa mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

Learning Community 
Masyarakat belajar yaitu hasil belajar bisa diperoleh dengan berbagai antar teman, antar kelompok, antar yang tahu kepada yang belum tahu, baik di dalam maupun diluar kelas. Adapun prinsipnya adalah hasil belajar yang diperoleh dari kerja-sama, sharing terjadi antara pihak yang memberi dan menerima, adanya kesadaran akan manfaat dari pengetahuan yang mereka dapat.

Modelling
Maksud dari pemodelan dalam pembelajaran kontektual bahwa pembelajaran ketrampilan atau pengetahuan tertentu diikuti dengan model yang bisa ditiru oleh siswa. Misalnya cara menggunakan sesuatu, menunjukkan hasil karya, mempertontonkan suatu penampilan, Cara semacam ini akan lebih cepat dipahami oleh siswa. Adapun prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru adalah contoh yang bisa ditiru, contoh yang dapat diperoleh langsung dari ahli yang berkompeten.

Reflection
Refleksi juga bagian penting dalam pembelajaran dengan pendekatan kontektual. Refleksi adalah cara berpikir tentang apa-apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan pada masa lalau. Siswa mengedepankan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan baru yang merupakan pengayaan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian aktivitas atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru diperolehnya adalah pengayaan dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Adapun prinsip dalam penerapannya adalah perenungan atas sesuatu pengetahuan yang baru diperoleh respon atas kejadian atau penyampaian penilaian atas pengetahuan yang baru diterima.

Authentic Assessment 
Penilaian yang sebenarnya adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Sehingga penilaian autentik diarahkan pada proses mengamati, menganalisis, dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika proses pembelajaran berlangsung. Adapun penerapannya adalah untuk mengetahui perkembangan belajar siswa, penilaian dilakukan secara komprehensif antara penilaian proses dan hasil, guru menjadi penilai yang konstruktif, memberikan siswa kesempatan untuk mengembangkan penilaian diri.

D. Independent Learning
Ada beberapa istilah yang mengacu pada pengertian yang sama tentang independent learning (belajar mandiri), yaitu sel-directed learning dan autonomous learning. Berikut beberapa pengertian independent learning (http://sn2dg.blogspot.com):

  • Wedemeyer (1973) menjelaskan bahwa independent learning (belajar mandiri) adalah cara belajar yang memberikan derajat kebebasan, tanggung jawab dan kewenangan yang lebih besar kepada pembelajar dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan belajarnya. Pembelajar mendapatkan bantuan bimbingan dari guru atau orang lain tapi bukan berarti harus bergantung kepada mereka. 
  • Dodds (1983) menjelaskan bahwa belajar mandiri adalah sistem yang memungkinkan siswa belajar secara mandiri dari bahan cetak, siaran ataupun bahan pra-rekam yang telah terlebih dahulu disiapkan; istilah mandiri menegaskan bahwa kendali belajar serta keluwesan waktu maupun tempat belajar terletak pada siswa yang belajar. 
  • Rowntree (1992) menjelaskan bahwa ciri utama pendidikan terbuka yang menerapkan sistem belajar mandiri adalah adanya komitmen untuk membantu pembelajar memperoleh kemandirian dalam menentukan keputusan sendiri tentang 1) tujuan atau hasil belajar yang ingin dicapainya; 2) mata ajar, tema, topic atau issu yang akan ia pelajari; 3) sumber-sumber belajar dan metode yang akan digunakan; dan 4) kapan, bagaimana serta dalam hal apa keberhasilan belajarnya akan diuji (dinilai).

Dalam independent learning, guru/tutor berperan sebagai fasilitator yang memungkinkan pembelajar dapat secara mandiri: 1) mendiagnosa kebutuhan belajarnya sendiri; 2) merumuskan/menentukan tujuan belajarnya sendiri; 3) mengidentifikasi dan memilih sumber-sumber belajarnya sendiri (baik sumber belajar manusia atau non-manusia); 4) menentukan dan melaksanakan strategi belajarnya; dan 4) mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.

Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan dengan sistem belajar mandiri pembelajar diberikan kemandirian (baik secara individu atau kelompok) dalam menentukan 1) tujuan belajarnya (apa yang harus dicapai); 2) apa saja yang harus dipelajari dan dari mana sumber belajarnya (materi dan sumber belajar); 3) bagaimana mencapainya (strategi belajar); dan 4) kapan serta bagaimana keberhasilan belajarnya diukur (evaluasi).

Pembelajaran dengan sistem belajar mandiri mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan pendidikan dengan sistem lain. Knowles (1975) menyatakan bahwa sistem belajar mandiri bukan cara belajar yang tertutup, dimana pembelajar belajar secara sendiri tanpa bantuan orang lain. Tetapi, belajar mandiri terjadi dengan bantuan orang lain seperti guru, tutor, mentor, narasumber, dan teman sebaya. 
Knowles membedakan sistem belajar mandiri dengan sistem belajar tradisional dengan istilah pedagogi dan andragogi. Konsep pedagogi memandang pembelajar sebagai obyek, dalam hal ini pembelajar diajarkan (being taught) tentang sesuatu. Sedangkan konsep andragogi memandang pembelajar sebagai subyek, peran guru adalah membantu belajar.

Sistem belajar mandiri memberikan peluang kepada pembelajar untuk menyesuaikan diri dengan tujuan, sumber belajar dan kegiatan-kegiatan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Sedangkan pada belajar individual, kesempatan untuk hal ini tidak ada. Semuanya telah ditentukan oleh guru atau pembuat program secara “top-down”, baik dari segi tujuan, sumber belajar dan kegiatan-kegiatan belajarnya. Karakteristik utama pendidikan dengan sistem belajar mandiri adalah tanggung jawab dalam mengendalikan dan mengarahkan belajarnya sendiri berada ditangan pembelajar. 

Beberapa metode pembelajaran dalam Independent Learning antara lain:

  1. Tugas Individu. Tugas individual adalah diberikan pada waktu-waktu tertentu dalam bentuk pembuatan kliping dan majalah.
  2. Tugas Kelompok. Tugas kelompok digunakan untuk menilai kompetensi kerja kelompok.
  3. Demonstrasi. Merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif dalam menolong siswa untuk mencari jawaban dari pertanyaan “bagaimana cara membuatnya, terdiri dari bahan apa, cara mana yang paling tepat, bagaimana dapat diketahui kebenarannya”.
  4. Metode Diskusi. Suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama.
Kelebihan independent learning antara lain (Wena, 2009: 214):
  1. Program mandiri sengaja dirancang dengan cermat sehingga dapat memanfaatkan lebih banyak asas belajar. Pola ini juga disebutkan dapat memberikan kesempatan, baik kepada siswa yang lamban maupun yang cepat untuk menyelesaikan pelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. 
  2. Dapat menyebabkan perhatian tercurah lebih banyak kepada siswa perseorangan dan memberi kesempatan yang lebih luas untuk melangsungkan interaksi antar siswa.
  3. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas.
  4. Dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar siswa yang optimal
Kelemahan independent learning antara lain:
  1. Memungkinkan kurang terjadinya interaksi antara pengajar dengan siswa dan antara sesama siswa. Apabila dipakai jalur dengan langkah tetap, kemungkinan belajar mandiri akan membosankan dan tidak menarik. 
  2. Menuntut kerjasama dan perencanaan tim yang rinci diantara staf pengajar yang terlibat.
  3. Frekuensi kontak secara langsung antarsesama siswa maupun antarsiswa dengan narasumber sangat minim.

E. Quantum Learning
Quantum Learning adalah seperangkat metode dan falsafah belajar yang terbukti efektif untuk semua umur, maksudnya quantum learning ini merupakan metode pembalajaran yang menggabungkan lingkungan (positif, aman, mendukung, santai, penjelajahan, menggembirakan), fisik (gerakan, terobosan, perubahan keadaan, permainan-permainan, fisiologi, estafet, partisipasi), dan suasana (nyaman, cukup penerangan, enak dipandang, dan ada musiknya). 

Misalkan dalam quantum learning tersebut ada pembelajaran yang disebut SuperCamp. SuperCamp merupakan learning forum, yaitu menggabungkan rasa percaya diri, keterampilan belajar, dan keterampilan berkomunikasi dalam lingkungan yang menyenangkan. Di SuperCamp, semua kurikulum secara harmonis merupakan kombinasi dari tiga unsur: 
keterampilan akademis, prestasi fisik, dan keterampilan dalam hidup. Yang mendasari kurikulum ini adalah filsafat dasar. Kami yakin bahwa, agar efektif, belajar dapat dan harus menyenangkan. Kami nyakin bahwa belajar adalah kegiatan seumur hidup yang dapat dilakukan dengan menyenangkan dan berhasil. Kami yakin bahwa seluruh pribadi adalah penting, akal, fisik, dan emosi. Dan kami yakin bahwa kehormatan dari yang tinggi adalah material penting dalam membentuk pelajar yang sehat dan bahagia. 

Quantum learning berakar dari upaya Dr. georgi Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutkan sebagai “suggestology”. Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apa pun memberikan sugesti positif ataupun negatif. Beberapa teknik yang digunakannya untuk memebrikan sugesti positif adalah mendudukkan murid secara nyaman, memasang musik latar di dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster untuk memberi kesan besar sambil menonjolkan informasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni mengajaran sugestif. 

Quantum learning mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian antara siswa dan guru. 
Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan positif, faktor penting untk merangsang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang, dan menciptakan “pegangan” dari saat-saat keberhasilan yang menyakinkan. Jadi, quantum learning sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energy menjadi cahaya”.

Metode yang diterapkan dalam quantum learning antara lain:

1. Menata Pentas: Lingkungan Belajar yang Tepat
Ciptakan lingkungan yang optimal, baik secara fisik maupun mental. Bagi quantum, faktor-faktor lingkungan sama dengan penataan yang dilakukan oleh kru panggung. Cara menata perabotan, musik yang dipasang, penataan cahaya, dan lain-lain. Jika ditata dengan baik, lingkungan belajar dapat menjadi sarana yang bernilai dalam membangun dan mempertahankan sikap positif. Dengan mengatur lingkungan belajar, hal itu merupakan langkah pertama yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar secara keseluruhan. Untuk menata atau mengatur lingkungan belajar yang ideal, antara lain:

a. Lingkungan mikro: tempat untuk bekerja atau berkreasi
Dalam hal ini, Anda akan belajar tentang cara menerima, menyerap, dan mengolah informasi yaitu gaya belajar setiap orang. Hal lain dari gaya belajar ini adalah bagaimana cahaya, musik, dan desain ruangan mempengaruhi proses belajar. Tujuannya adalah untuk menciptakan suasana yang menimbulkan kenyamanan dan rasa santai karena dalam keadaan santai inilah setiap orang dapat berkonsentrasi dengan sangat baik dan mampu belajar dengan sangat mudah. Otot-otot yang tegang akan mengalihkan aliran darah dan juga perhatian orang yang melakukan proses belajar tersebut. Keadaan pikiran yang ideal untuk belajar secara optimal diciptakan ketika mau memperluas zona keamanan dan mencoba hal baru. Pikirkan suatu suasana di mana dapat berkonsentrasi dengan mudah. 

b. Iringan musik: kunci menuju quantum learning
Alasan kenapa musik sangat penting untuk lingkungan quantum learning adalah karena musik sebenarnya berhubungan dan mempengaruhi kondisi fisiologis seseorang. Selama melakukan pekerjaan mental yang berat, tekanan darah dan denyut jantung meningkat, dan otot-otot menjadi tegang. Selama relaksasi dan meditasi, denyut jantung dan tekanan darah menurun, dan otot-otot mengendur. Dengan menggunakan musik yang khusus, seseorang dapat mengerjakan pekerjaan sambil tetap relaks dan berkonsentrasi.

c. Ikuti tanda-tanda positif: “Pemacu Semangat”, sertifikat dan pengharagaan yang telah diterima, dukungan “Saat Puncak”, catatan, hadiah, kartu penghargaan diri, dll.
Kalimat-kalimat positif yang tergantung di dinding menjadi pengingat abadi akan potensi dan kelebihan Anda. Contoh: “Apa pun yang dapat Anda lakukan atau ingin Anda lakukan, mulailah. Keberanian memiliki kecerdasan, kekuatan, dan keajaiban di dalamnya.” Adalah sangat berpengaruh menggantungkan foto-foto atau kenagan saat-saat puncak Anda, begitu juga penghargaan dan catatan penghargaan. 

d. Lingkunagn makro: dunia yang luas
Maksudnya, ketika kita telah memiliki lingkungan belajar yang nyaman, maka kita telah memiliki lingkar yang kuat dalam memperluas zona belajar menuju lingkungan makro/dunia luar. Tingkat partisipasi di dunia sesungguhnya dapat menentukan kemampuan untuk belajar dengan kemudahan. Semakin banyak berinteraksi dengan lingkungan, semakin mahir mengatasi situasi-situasi yang menantang dan semakin mudah mempelajari informasi baru. 

2. Memupuk sikap juara: apa yang akan Anda lakukan jika Anda tahu Anda tak mungkin gagal?
Berpikir seperti seorang juara membuat Anda menjadi juara. Itulah pentingnya mengetahuai bagaimana memupuk sikap juara. Sikap positf seperti itulah yang merupakan aset terpenting dalam proses belajar. Pastikan untuk mempunyai sikap posifit, dan segalanya akan segera berubah. 

3. Menemukan gaya belajar
Cara belajar Anda adalah kombinasi dari bagaimana Anda menyerap, lalu mengatur, dan mengolah informasi
.
4. Teknik mencatat
Kiat-kiat membuat catatan:

  1. Mendengarkan dengan seksama/aktif. 
  2. Memperhatikan secara aktif.
  3. Partisipasi.
  4. Tinjauan awal
  5. Membuat yang auditorial menjadi visual.
  6. Membuat pengulangan itu mudah.
Menggunakan peta pikiran juga bisa digunakan dalam teknik mencatat. Manfaat yang dari peta pikiran ini adalah:
  1. Fleksibel 
  2. Dapat memusatkan perhatian
  3. Meningkatkan pemahaman
  4. Menyenangkan
Catatan TS: kependekan dari Catatan Tulis dan Susun. Ciri yang paling penting dari sistem ini adalah catatan ini memudahkan untuk mencatat pemikiran dan kesimpulan pribadi bersama-sama dengan bagian-bagian kunci pembicaraan atau materi bacaan. Catata TS adalah cara menerapkan pikiran sadar ataupun bawah sadar Anda terhadap materi yang sama dengan cara sadar.

F. Learning Styles
Setiap anak memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda. Begitu juga dengan Learning Style mereka. Learning Styles marak pada sekitar tahun 70-an, di mana para ahli mengatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan tertentu di dalam menerima informasi yang diperolehnya sehingga dapat mengolah informasi itu secara lebih baik. Beberapa tahun belakangan ini teori Learning Styles ini kembali menjadi populer. 

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk membuktikan bahwa ternyata kita memiliki cara belajar dan berfikir yang berbeda-beda. Kita akan merasa lebih efektif dan lebih baik dengan menggunakan lebih banyak mendengarkan, namun orang lain merasa lebih baik dengan membaca dan bahkan ada yang merasa bahwa hasilnya akan optimal jika kita belajar langsung mempraktekkan apa yang akan dipelajari. Bagaimana cara kita belajar akan sangat mempengaruhi struktur otak kita. Hal inilah yang kemudian kita kenal sebagai Learning Style (Gaya Belajar).

Dalam menyikapi berbagai macam mengenai gaya belajar, tentulah harus ditambah dengan logika dan kebudayaan cara kerja kita, dan yang paling penting dari semua diatas adalah suatu cara kerja otak kita yang mana dalam hal ini kita sebut dengan modalitas belajar. Secara singkat modalitas belajar adalah, suatu cara bagaimana otak menyerap informasi yang masuk melalui panca indera secara optimal. Menurut Howard Gardner modalitas belajar tersebut dapat dikarakteristik menjadi gaya belajar Auditory, Visual, Reading dan Kinesthetic

1. Auditory
Orang yang memiliki gaya belajar Auditory, belajar dengan mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya. Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah mendengarnya lebih dulu. 
Mereka yang memiliki gaya belajar ini umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk tulisan, selain memiliki kesulitan menulis ataupun membaca. Beberapa ciri seorang Auditory antara lain :
  • Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok 
  • Mengenal banyak sekali lagu / iklan TV, 
  • Suka berbicara. o Pada umumnya bukanlah pembaca yang baik. 
  • Kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya. 
  • Kurang baik dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.  
  • Kurang memperhatikan hal-hal baru dalam lingkungan sekitarnya. 

2. Visual
Orang yang memiliki gaya belajar Visual, belajar dengan menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham. Ciri-ciri orang yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum mereka memahaminya. Konkretnya, yang bersangkutan lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar. 
Selain itu, mereka memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, disamping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. Hanya saja biasanya mereka memiliki kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif terhadap suara, sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah menginterpretasikan kata atau ucapan. Beberapa karakteristik Visual adalah :
  • Senantiasa melihat memperhatikan gerak bibir seseorang yang berbicara kepadanya 
  • Cenderung menggunakan gerakan tubuh saat mengungkapkan sesuatu 
  • Kurang menyukai berbicara di depan kelompok, dan kurang menyukai untuk mendengarkan orang lain.
  • Biasanya tidak dapat mengingat informasi yang diberikan secara lisan 
  • Lebih menyukai peragaan daripada penjelasan lisan  
  • Biasanya orang yang Visual dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut/ramai tanpa merasa terganggu.

3. Reading
Orang yang memiliki gaya belajar Reading, belajar dengan menitikberatkan pada tulisan atau catatan. Karakteristik ini benar-benar menempatkan bacaan atau tulisan sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah membaca atau menuliskannya lebih dulu. 
Mereka yang memiliki gaya belajar ini menyukai hal-hal yang berbau teoritis dan umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk peragaan atau praktis. Orang yang memiliki gaya belajar Reading biasanya memiliki karakteristik :
  • Suka membaca dan membuat catatan 
  • Huruf-huruf indah dan tulisan rapi merupakan hal yang sangat berkesan bagi mereka  
  • Mudah mengingat apa yang mereka baca atau tuliskan.

4. Kinesthetic
Orang yang memiliki gaya belajar, Kinesthetic mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. 
Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya. Karakter berikutnya dicontohkan sebagai orang yang tak tahan duduk manis berlama-lama mendengarkan penyampaian informasi. Tak heran kalau individu yang memiliki gaya belajar ini merasa bisa belajar lebih baik kalau prosesnya disertai kegiatan fisik. 
Kelebihannya, mereka memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim disamping kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability). Tak jarang, orang yang cenderung memiliki karakter ini lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk kemudian belajar mengucapkannya atau memahami fakta.

Mereka yang memiliki karakteristik-karakteristik di atas dianjurkan untuk belajar melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model peraga, semisal bekerja di lab atau belajar yang membolehkannya bermain. Cara sederhana yang juga bisa ditempuh adalah secara berkala mengalokasikan waktu untuk sejenak beristirahat di tengah waktu belajarnya.

Beberapa karakteristiknya adalah Orang yang memiliki gaya belajar Kinesthetic biasanya memiliki karakteristik :

  • Suka menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya 
  • Sulit untuk berdiam diri 
  • Suka mengerjakan segala sesuatu dengan menggunakan tangan 
  • Biasanya memiliki koordinasi tubuh yang baik 
  • Suka menggunakan objek yang nyata sebagai alat bantu belajar 
  • Mempelajari hal-hal yang abstrak merupakan hal yang sangat sulit

A. Cooperative Learning
Tipe pembelajaran Cooperative Learning menurut Robert E. Slavin, yaitu:

  1. Student Teams Achievement Division (STAD) 
  2. Teams Games-Tournament (TGT)
  3. Jigsaw
  4. Team Accelerated Instruction (TAI)
  5. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
  6. Group Investivigation

B. Learning Styles

Karakter gaya belajar yang berbeda-beda pada tiap anak menurut Barbara Prashnig, yaitu:
Gaya belajar dipengaruhi juga oleh kerja otak. Dominasi kerja otak kiri menghasilkan gaya pemrosesan analitis sedangkan dominasi kerja otak kanan menghasilkan gaya pemrosesan holistis. 
Penelitian para ahli pendidikan menemukan bahwa 3/5 gaya belajar bersifat genetis, sisanya ketekunan dan pengalaman. Misalnya, ada anak yang suka membaca namun tidak suka mendengarkan. Anak dengan karakteristik seperti ini akan mudah menerima pengetahuan dengan cara membaca sendiri. Apabila materi pembelajaran dibacakan, maka anak dengan tipe seperti ini akan merasa kesulitan menerimanya.

Ada anak yang suka dengan gambar. Anak sepert ini suka melihat gambar dan juga suka menggambar merupakan tipe anak yang mudah menerima materi pembelajaran dengan media berupa gambar, poster, patung, atau bentuk visual lainnya. Maka, tiap anak berbeda dalam menerima materi pembelajaran dikarenakan kecenderungan masing-masing anak berbeda-beda.

C. Active Learning
Mel Silberman dalam bukunya “Active Learning” mengemukakan bahwa seorang anak dapat dengan mudah menerima materi pelajaran dengan baik apabila ia dapat mendengar, melihat, mendiskusikan, dan mempraktekkannya sendiri. Pendapat tersebut menurut saya benar, karena penerimaan dari berbagai indera akan menguatkan materi yang didapakan. Anak akan mudah dalam memahami maupun menghafal. Apalagi ditambah dengan anak memprakterkkannya sendiri, maka anak tersebut sudah dianggap menguasai sehingga apa yang ia lakukan akan tertanam dalam ingatannya melebihi apabila ia tidak melakukan.

Misalnya, dalam pembelajaran membaca puisi. Stratergi pembelajaran yang baik adalah dengan guru memberi contoh cara pembacaan yang baik atau menampilkan video pembacaan puisi. Kemudian siswa disuruh mempraktekkan membaca puisi.

D. Independent Learning
Komponen belajar mandiri menurut Haris Mudjiman dalam bukunya Manajemen Pelatihan Belajar Mandiri:
  1. Niat adalah kemauan untuk belajar secara mandiri. 
  2. Motivasi merupakan suatu dukungan moril yang dapat meningkakan kemauan belajar peserta didik.
  3. Kontruktivisme merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang bermula dari pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam memori atau struktur kognitif siswa. Dalam proses pembelajaran, pengetahuan baru diproses dan diserap untuk dijadikan sebagian dari struktur kognitif di dalam pikiran siswa.
  4. Keterampilan adalah suatu keahlian yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik. Keahlian yang dimaksud disini adalah keahlian untuk belajar secara mandiri.

E. Quantum Learning
Bobby de Porter menyatakan bahwa “sugestology dapat mempengaruhi hasil belajar siswa (sugesti positif dapat merubah hidup seseorang)”. Pernyataan tersebut membawa dampak dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan mulai memperhatikan keadaan psikis peserta didik. Pakar pendidikan mulai merumuskan bahwa tujuan pembelajaran dipengaruhi oleh keadaan siswa.

Dalam prakteknya, praktisi pendidikan mulai memperhatikan keadaan lingkungan belajar yang dapat mendukung proses pembelarjan. Misalnya, beberapa teknik yang digunakannya untuk memberikan sugesti positif adalah mendudukkan murid secara nyaman, memasang musik latar di dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster untuk memberi kesan besar sambil menonjolkan informasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni mengajaran sugestif. 
Dengan adanya sugesti positif yang diberikan maka siswa akan semangat dalam mengikuti proses pembelajaran dan mereka akan semangat mempelajari pelajaran-pelajaran yang sudah diberikan oleh gurunya. Maka prestasi belajar siswa pun akan meningkat.


PENUTUP
Keberhasilan proses pembelajaran dimana parameternya adalah hasil belajar, hal ini memacu baik guru maupun siswa untuk berusaha mencapai tujuan tersebut. Dalam mencapai tujuan pembelajaran diperlukan sebuah strategi pembelajaran. Beberapa strategi pembelajaran tersebut antara lain: Active Learning, Cooperative Learning, Contextual Teaching and Learning, Independent Learning, Quantum Learning, dan Learning Styles.

Active Learning selalu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, bekerja, melaksanakan pekerjaan, dan tidak diam saja. Guru juga aktif dalam rangka menciptakan suasana yang kondusif agar siswa mau belajar secara optimal dengan berbagai usaha, cara, strategi, media, dan sebagainya. Cooperative Lerning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih. Keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri.

Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Selain itu, juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sendiri-sendiri. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar.

Independent learning (belajar mandiri) adalah cara belajar yang memberikan derajat kebebasan, tanggung jawab dan kewenangan yang lebih besar kepada pembelajar dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan belajarnya. Quantum learning, prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apa pun memberikan sugesti positif ataupun negatif.


DAFTAR PUSTAKA

Bobbi De Porter; Mike Hernacki. 2001. Quantum Learning. Bandung: Kaifa

Sufanti, Main. 2010. “Strategi Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia”. Hand Out Perkuliahan. PBSID FKIP UMS

Surtikanti dan Joko Santoso. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Surakarta: BP FKIP UMS

Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara



Download Makalah Strategi Pembelajaran: Active Learning, Cooperative Learning, Contextual Teaching and Learning, Independent Learning, Quantum Learning, dan Learning Styles :
DOWNLOAD

 

Penelaahan Buku Teks Bahasa Indonesia

Download makalah Penelaahan Buku Teks Bahasa Indonesia (pdf) :
DOWNLOAD
 

Buku teks berfungsi sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar dalam mata pelajaran tertentu, seperti mata pelajaran sejarah memerlukan buku teks sejarah, mata pelajaran matematika memerlukan buku teks Bahasa Indonesia dan seterusnya. 

Hampir setiap mata pelajaran memerlukan minimal satu buku teks yang berkualitas dan relevan. Berapa jumlah mata pelajaran atau mata kuliah yang harus diikuti sejumlah itu pula jumlah minimal buku teks yang harus tersedia. Semakin baik kualitas buku teks maka semakin sempurna pengajaran mata pelajaran yang ditunjangnya.

Seorang pendidik yang profesional tentu akan memilih buku teks yang menurutnya paling berkualitas dan paling efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Maka, seorang pendidik harus mengetahui kriteria buku teks yang baik. 

Dengan mengetahui kriteria buku teks yang baik diharapkan seorang pendidik mampu memilih dan mempergunakan buku teks sesuai konteks pembelajaran yang dihadapainya. Proses pemilihan buku teks tersebut perlu adanya kegiatan telaah yaitu meneliti dan menilai kualitas buku teks.

Kegiatan telaah buku teks, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia perlu dilakukan oleh setiap pendidik dengan mengacu pada kriteria-kriteria penelaahan buku teks yang baik. Tulisan ini membahas kriteria telaah buku teks dan contoh telaah buku teks Bahasa Indonesia. Kemudian akan mencoba melakukan praktek telaah buku teks Bahasa Indonesia.


PEMBAHASAN


A. Kriteria Penelahaan Buku Teks Bahasa Indonesia
Beberapa sumber acuan yang dapat kita pertimbangkan dan gunakan dalam penyusunan pedoman penelaahan buku teks antara lain: (1) kurikulum, (2) karakteristik mata pelajaran, (3) hubungan antara kurikulu, mata pelajaran, dan buku teks, (4) dasar-dasar penyusunan buku teks, (5) kualitas buku teks, (6) prinsip-prinsip penyusunan buku kerja, dan (7) penyeleksian buku kerja.
  1. Berdasarkan sumber acuan tersebut maka disusunlah butir-butir yang dapat digunakan sebagai alat menelaah buku teks (kriteria telaah buku teks). Kriteria ini bersifat umum sehingga dapat digunakan bagi setiap buku teks. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut (Tarigan dan Tarigan, 2009: 94-96) :Pendekatan : keterampilan proses yang meliputi mengamati, menginterpretasi, meramalkan, dan lain-lain. 
  2. Tujuan : bersifat kognitif, afektif, atau psikomotorik.
  3. Bahan pengajaran : memenuhi beberapa ketentuan seperti bermanfaat bagi siswa, menarik, dan tersusun logis sistematis.
  4. Metode : memenuhi beberapa ketentuan seperti bervariasi, memikat, dan mudah.
  5. Evaluasi : memenuhi beberapa ketentuan seperti terbuka untuk dinilai, praktis, dan mengukur prestasi belajar.
  6. Komunikatif : bertujuan agar mudah diterima dan dipahami oleh siswa.
 
Bila kita ingin menyusun kriteria penelaahan buku teks dalam mata pelajaran tertentu, kita tinggal menyesuaikan butir-butir dalam pedoman umum dengan ciri khas atau tuntutan mata pelajaran yang bersangkutan. Dalam bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia kriteria penelaahan buku teks adalah sebagai berikut (Tarigan dan Tarigan, 2009: 97-99) :

1. Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam pengajaran Bahasa Indonesia adalah pendekatan proses yang penjabarannya sebagai berikut:
  • mengamati
  • menggolongkan
  • menafsirkan
  • menerapkan
  • mengomunikasikan.

2. Tujuan
Tujuan pengajaran Bahasa Indonesia adalah keterampilan berbahasa yang meliputi:
  •  terampil menyimak
  • terampil berbicara
  • terampil membaca
  • terampil menulis.

3. Bahan
Bahan pengajaran yang sudah memenuhi syarat-syarat umum, lalu dikelompokkan ke dalam enam pokok bahasan:
  • membaca
  • kosa kata
  • struktur
  • menulis
  • pragmatik
  • apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.

4. Metode
Metode pengajaran bahasa harus memenuhi persyaratan umum. Beberapa di antara metode tersebut adalah:
  • ceramah
  •  penjelasan
  • latihan
  • penugasan
  • mandiri
  • kerja kelompok
  • diskusi.

5. Evaluasi
Beberapa bentuk penilaian yang dianggap sesuai dengan atau dalam pengajaran Bahasa Indonesia, antara lain:
  • pertanyaan mengenai isi,
  • mengisi
  • interpretasi
  • memeriksa kembali
  • mengubah bentuk
  • praktis
  • penampilan
  • definisi
  • sinonim
  • antonim.

6. Bahasa

Bahasa buku teks harus baik dan benar, mudah dipahami, sesuai dengan bahasa pembacanya dan komunikatif

 
B. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia
Setelah mengetahui dan memahami kriteria penelaahan buku teks Bahasa Indonesia, maka berikut ini dikemukakan hasil penelaahan buku teks Bahasa Indonesia oleh Tarigan dan Tarigan (2009: 103-160).

Buku yang ditelaah oleh Tarigan dan Tarigan adalah sebagai berikut:
1) Bahasa Indonesia 1 (Idris, 1982)
2) Bahasa Indonesia 2 (Idris, 1980)
3) Bahasa Indonesia 3 (Idris, 1982)
4) Sintaksis (Ramlan, 1983)
5) Menyimak Sebagai suatu Keterampilan Berbahasa (Tarigan, 1985)
6) Pengantar Apresiasi Puisi (Aftarudin, 1984)

Tarigan dan Tarigan menelaah setiap buku tersebut dengan berpedoman pada kriteria penelaahan buku teks. Hasil dari penelaahan adalah sebagai berikut.

Dalam buku teks “Bahasa Indonesia 1, 2, dan 3” tidak ada penjelasan sedikit pun bagaimana proses penyusunan bahan atau. pokok bahasan. Juga tidak ada petunjuk bahan itu sesuai untuk tujuan kurikuler yang mana dalam GBPP. Materi pokok dalam buku tersebut dapat disederhanakan menjadi: (a) tata bunyi, (b) tata bentuk, (c) tata kalimat, (d) paragraf, (e) gaya bahasa, (f) kosa kata, (g) diskusi, (h) sastra, (i) menulis, (j) berbicara, dan (k) membaca.

Bahan-bahan bacaan dalam buku tersebut kebanyakan tidak utuh atau lengkap. Bacaan itu merupakan kutipan per bagian saja. Ini tentu tidak memberikan penambahan pengetahuan atau pengalaman yang utuh. Pokok bahasan kesusastraan menunjukkan bahwa tujuan pengajaran lebih condong pada pengetahuan sastra bukan pada apresiasi sastra. Begitu juga pada pokok bahasan mengarang dan berbicara lebih condong pada penguasaan materi. Sebagian besar tugas dan pelatihan dalam buku ini berfungsi sebagai teknik pengajaran bukan sebagai evaluasi. Jadi, guru perlu menyusun sendiri instrumen evaluasi. Kesimpulannya, buku teks “Bahasa Indonesia 1, 2, dan 3” belum dapat memenuhi fungsi buku teks utama, yang secara minimal sudah memenuhi segala persyaratan.

Telaah buku teks selanjutnya adalah buku teks Sintaksis karangan Ramlan. Buku ini dalam penganalisisan satuan-satuan gramatik menggunakan dasar ciri-ciri formal yang ada dalam Bahasa Indonesia itu sendiri. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan struktural. Tujuan penyampaian materi lebih diarahkan pada aspek kognitif. Inti pembicaraan dalam buku ini berupa tataran gramatik dari tata kalimat yang meliputi: (a) kalimat, (b) klausa, dan (c) frase.

Metode penyajian bahan yang digunakan dalam buku ini hanya satu yakni penjelasan informasi. Media pengajaran dan evaluasi hasil belajar kurang diperhatikan. Penggunaan bahasa buku ini teratur, baku, rapi, dan bersih serta komunikatif bagi pembaca.

Telaah selanjutnya terhadap buku teks Menyimak Sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Buku ini menggunakan pendidikan integritas (terpadu) yang dapat dilihat dalam tujuan yang lengkap dan menyeluruh meliputi aspek kognitif, afektik, dan psikomotorik. Juga ada keterpaduan dalam keterampilan, teori dan praktek, serta dalam pengajarannya. Isi bahan mengenai seluk beluk menyimak secara komprehensif. Metode penyampaian materi dengan metode penjelasan informasi dan metode menjawab pertanyaan. Tugas dan pelatihan sebagai sarana evaluasi tidak disertakan dalam buku ini sehingga menjadi tugas guru untuk menyusun sendiri. Penggunaan bahasa dalam buku ini baku, kalimat-kalimatnya efektif sehingga komunikatif bagi pembaca.

Buku teks Pengantar Apresiasi Puisi disusun bagi pembaca agar mereka dapat memahami puisi. Tujuan pengajarannya mengarah pada segi kognitif, afektif, dan skill. Metode penyajian yang digunakan antara lain penjelasan disertai contoh-contoh, metode kerja kelompok, individu, diskusi, praktek, dan pelatihan. Media pengajaran dan evaluasi hasil belajar tidak ada dalam buku ini. Buku ini menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, enak dibaca, dan komunikatif.

 
SIMPULAN
Beberapa sumber acuan yang dapat kita pertimbangkan dan gunakan dalam penyusunan pedoman penelaahan buku teks antara lain: (1) kurikulum, (2) karakteristik mata pelajaran, (3) hubungan antara kurikulu, mata pelajaran, dan buku teks, (4) dasar-dasar penyusunan buku teks, (5) kualitas buku teks, (6) prinsip-prinsip penyusunan buku kerja, dan (7) penyeleksian buku kerja. Berdasarkan sumber acuan tersebut maka disusunlah butir-butir yang dapat digunakan sebagai alat menelaah buku teks (kriteria telaah buku teks). Dalam bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia kriteria penelaahan buku teks mencakup : pendekatan, tujuan, bahan, metode, evaluasi, bahasa.


DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, Henry Guntur & Djago Tarigan. 2009. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa



Download makalah Penelaahan Buku Teks Bahasa Indonesia (pdf) :
DOWNLOAD
 
 

January 12, 2013

Majalah Figur Edisi Mei 2012 (Ebook)

 


Ebook Majalah FIGUR Edisi Mei 2012 (pdf)
DOWNLOAD
atau
DOWNLOAD


Kebangkitan Pendidikan Kejuruan.

Itulah tema yang diangkat redaksi majalah Figur pada edisi terbarunya ini. Sebagaimana diungkapkan oleh Pimred majalah ini dalam Pena Redaksi, "SMK merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai visi dan misi untuk mencetak lulusan yang berkompetensi, mempunyai skill, dan siap masuk ke dalam dunia kerja. Oleh karena itu, pada edisi kali ini kami ingin menguak sisi menarik dan keberhasilan pendidikan kejuruan yang baru-baru ini menjadi isu nasional, serta wacana tentang pendidikan vokasional."

Rubrik Liputan Khusus menyajikan pembahasan "Kemerdekaan SMK dari Belenggu Masyarakat". Pembahasan ini didasari atas mulai tertariknya masyarakat terhadap sekolah kejuruan. Setelah beberapa waktu SMK "dianaktirikan", baik oleh pemerintah maupun masyarakat, kini SMK mulai memperlihatkan "taringnya". Keberhasilan siswa-siswa SMK membuat mobil, yang kemudian menjadi isu nasional, membuktikan bahwa SMK mampu menjadi lembaga pendidikan yang menyediakan tenaga-tenaga yang terdidik dan terampil.

Pada Liputan Umum terdapat artikel "Menuju Pendidikan Vokasional". Pembahasan artikel ini masih terkait dengan artikel pada Liputan Khusus. Artikel pada rubrik Liputan Umum ini dibuka dengan pernyataan Bob Sadino, "Pendidikan yang ada sekarang ini banyak menghasilkan orang-orang yang arogan, yang merasa pintar, namun tidak punya keterampilan dan kompetensi untuk melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan untuk membuat Indonesia maju dan sejahtera".Pendidikan vokasional adalah pendidikan yang memuat kurikulum yang peka terhadap keperluan tenaga-tenaga ahli dalam suatu industri nyata.

Selain dua artikel di atas, ada dua artikel lagi yang menyoroti pendidikan di Indonesia, yaitu pada rubrik Kolom dan Opini. Rubrik Kolom menyajikan artikel berjudul "Dramatisasi Pendidikan di Era Globalisasi", sedangkan rubrik Opini menyajikan artikel berjudul "Saat Sekolah Menjadi Elitis."

Ada lagi satu rubrik yang menyinggung masalah pendidikan, khususnya  dalam proses pembelajaran, yaitu rubrik Artikel Lepas dengan artikel berjudul "Guru yang Expert: Teladan dan Perlu Diteladani". Artikel ini menyajikan bagaiamana seharusnya menjadi seorang guru yang expert sehingga pantas untuk menjadi teladan bagi siswanya.

Selain masalah pendidikan, masih banyak artikel yang disajikan dalam majalah yang bersampul warna cerah dan gambar mobil esemka ini. Di antaranya yaitu Cerpen, Religi, Planet Mahasiswa yang menyoroti komunitas Metamorphose, Nuansa Ilmiah yang menyajikan artikel "Manfaat Sarapan Pagi dan Akibat Tidak Sarapan Pagi", Do You Know "Apa Pengaruh Musik Terhadap Kepribadian Seseorang", Iptek, Info Sehat, "Tips Mengelola Emosi", dan yang lainnya.

Artikel-artikel dalam majalah FIGUR edisi Mei 2012 sebagian dapat dibaca di blog ini, khususnya yang membahas masalah pendidikan. Link artikel-artikel tersebut ada di bawah ini:
Anda juga dapatmembaca keseluruhan artikel dalam Majalah FIGUR Edisi Mei 2012 dengan mendownload versi ebook (*pdf). Link-nya berikut ini:

Download ebook Majalah FIGUR Edisi Mei 2012:



June 5, 2012

Model Penilaian Kelas

Implementasi PP No. 19 tentang Standar Pendidikan Nasional membawa implikasi terhadap sistem penilaian, termasuk konsep dan teknik penilaian yang dilaksanakan di kelas.

Penilaian hasil belajar dilakukan oleh pendidik (dalam hal ini guru), satuan pendidikan dan pemerintah. Penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh guru satuan pendidikan termasuk penilaian internal (internal assessment), sedangkan yang diselenggarakan pemerintah termasuk penilaian eksternal (external assessment). 

 Penilaian internal adalah penilaian yang direncanakan dan dilakukan oleh pendidik pada proses pembelajaran berlangsung dalam rangka penjaminan mutu. Penilaian eksternal merupakan penilaian yang dilakukan oleh pemerintah sebagai pengendali mutu, seperti ujian nasional.

Penilaian kelas merupakan penilaian internal terhadap proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan oleh pendidik, dalam hal ini guru di kelas atas nama satuan pendidikan untuk menilai kompetensi peserta didik pada saat dan akhir pembelajaran.


A. Pengertian Penilaian Kelas
Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan yang dilakukan guru yang berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi dasar setelah mengikuti proses pembelajaran.

Data yang diperoleh pendidik selama pembelajaran berlangsung dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar atau indikator yang akan dinilai. Dari proses ini, diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dirumuskan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan masing-masing. Data tersebut diperlukan sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai teknik/cara, seperti penilaian unjuk kerja (performance), penilaian tertulis (paper and pencil test) atau lisan, penilaian proyek, penilaian produk, penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio), dan penilaian diri.

Penilaian hasil belajar baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. Hasil belajar seorang peserta didik dalam periode waktu tertentu dibandingkan dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelum mengikuti proses pembelajaran, dan dianalisa apakah ada peningkatan kemampuan, bila tidak terdapat peningkatan yang signifikan, maka guru memunculkan pertanyaan; apakah program yang saya buat terlalu sulit?, apakah cara mengajar saya kurang menarik?, apakah media yang digunakan tidak sesuai?, dan lain-lain. 
Tingkat kemampuan satu peserta didik tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya, agar tidak merasa rendah diri, merasa dihakimi oleh pendidik tetapi dibantu untuk mencapai kompetensi atau indikator yang diharapkan.


B. Manfaat Penilaian Kelas
Manfaat penilaian kelas antara lain sebagai berikut:
  1. Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi. 
  2. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik.   
  3. Untuk umpan balik bagi pendidik dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan.  
  4. Untuk masukan bagi pendidik guna merancang kegiatan belajar.  
  5. Untuk memberikan informasi kepada orang tua dan komite satuan pendidikan tentang efektivitas pendidikan.   
  6. Untuk memberi umpan balik bagi pengambil kebijakan (Diknas Daerah) dalam mempertimbangkan konsep penilaian kelas yang digunakan.


C. Fungsi Penilaian Kelas
Penilaian kelas memiliki fungsi sebagai berikut:
  1. Menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. 
  2. Mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami kemampuan dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan (sebagai bimbingan).  
  3. Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu pendidik menentukan apakah seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan.  
  4. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya.  
  5. Sebagai kontrol bagi pendidik dan satuan pendidikan tentang kemajuan perkembangan peserta didik.


D. Prinsip-prinsip Penilaian Kelas

1. Validitas
Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi. Dalam mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, misalnya indikator ” mempraktikkan gerak dasar jalan..”, maka penilaian valid apabila mengunakan penilaian unjuk kerja. Jika menggunakan tes tertulis maka penilaian tidak valid.

2. Reliabilitas
Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. Penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi. Misal, pendidik menilai dengan unjuk kerja, penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila unjuk kerja itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. Untuk menjamin penilaian yang reliabel petunjuk pelaksanaan unjuk kerja dan penskorannya harus jelas.

3. Menyeluruh
Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh mencakup seluruh domain yang tertuang pada setiap kompetensi dasar. Penilaian harus menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi peserta didik, sehingga tergambar profil kompetensi peserta didik.

4. Berkesinambungan
Penilaian dilakukan secara terencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran pencapaian kompetensi peserta didik dalam kurun waktu tertentu.

5. Obyektif

Penilaian harus dilaksanakan secara obyektif. Untuk itu, penilaian harus adil, terencana, dan menerapkan kriteria yang jelas dalam pemberian skor.

6. Mendidik
Proses dan hasil penilaian dapat dijadikan dasar untuk memotivasi, memperbaiki proses pembelajaran bagi pendidik, meningkatkan kualitas belajar dan membina peserta didik agar tumbuh dan berkembang secara optimal.


Sumber:
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NASIONAL
PUSAT KURIKULUM

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes